kecoh

7:32:00 pm

 "Hari Sabtu besok ketemu di situ ya. Mungkin gw datang duluan, karena mau beresin draft kerjaan dulu sedikit."

Anggap saja namanya Lera. Dia menyebut sebuah kedai roti fancy yang baru buka di Kerobokan. Anehnya, kenapa harus ke situ? Tumben. Dia punya alergi gluten, dan kalopun dia ketemu roti gluten-free, lidahnya udah terbiasa tanpa roti. Jadi, bagi dia roti, pastry, atau anything yang sejenis bukan kudapan yang menarik. 

Ya udahlah. Mungkin dia mau ngemil salad atau minum doank kali. Ga mau pusing juga. 

Hari-H tiba dan, sesuai perkataannya, dia udah duduk manis dengan tab-nya. Tak ada bedanya dengan belasan orang lain di sekitarnya, yang sibuk dengan gadget perseginya. Lera terlihat melebur di antara mereka. Bahkan meskipun yang dia lakukan di tab-nya hanya bermain Mahjong Online, dia tetap terlihat sebagai wanita sibuk pada umumnya. 

"Gw baru sadar kalo di sini banyak banget yang nggak bisa gw makan," ucapnya ketika aku sedang membuka-buka buku menu.

"Terus?"

"Gw juga ga suka kopi. Jus pahit dari biji gosong itu cuma bikin lambung gw tersayat-sayat. Jadi ya gw pesen smoothies aja," terangnya.

Aku memutuskan menutup buku menu. Overwhelming melihat foto-foto di situ, dan lebih mengesankan kalo bisa lihat sendiri secara langsung. Jadi aku berjalan ke area display berisi beberapa cake, kemudian memesan sesuatu yang tampak apik kalau disorot lensa kamera. 

"Gw sadar kok. Sesadar-sadarnya. Bahwa gw kali ini memilih tempat yang ngga biasanya gw pilih." Lera kembali mengoceh sebelum ditanya. Tapi gapapa, dia seakan tahu kebingungan di kepalaku dan sedang mencoba membuat klarifikasi.

"Beberapa waktu belakangan ini gw lagi cape karena selalu merancang sesuatu. Bahkan hal sesimpel melipat bedcover sehabis tidur juga udah ga gw lakukan beberapa hari ini."

Mulut gw tertutup. Bukan karena bisu, bukan karena sakit gigi. Tapi karena sibuk ngunyah carrot cake yang dingin ini.

Respon diamku dianggapnya sebagai sinyal kalo dia bisa terus berbicara. 

"Kadang lu tuh bisa tahu orang masih punya harapan hidup atau engga, dari hal-hal kecil yang dia lakuin. Percaya deh, kalau ada orang yang sesumbar bilang 'aku mau mati', tapi setiap kali makan aja dia pikirin baik-baik asupan apa yang harus dia konsumsi, fixed itu orang cuma ngomong doank. Dia ga akan bener-bener mau mati."

"Kalau orang beneran mau ninggalin dunia, dia akan berhenti bikin rencana. Dia lakuin semua hal asal-asalan. Yang penting jadi. Atau, kalau ngga jadi sama sekalipun, dia ngga akan kepikiran apa-apa."

"Perlahan-lahan dia biarin rumahnya berantakan. Ga disapu, ga dipel. Sampah bertumpuk tapi ga dibuang. Keluar belatung juga cuek aja. Malah disemprot pake baygon!"

Tiba-tiba Lera ngakak kenceng banget. Aku sih malu ya sama bapak botak di samping yang mendadak nengok ke arah dia. 

Habis itu dia berkicau lagi, "Kalo orang yang tadinya super peduli sama small details in their job, terus perlahan sering bikin salah, wah itu red alert sih. Dia pasti lagi divert ke suatu titik dengan sengaja. Dia tahu bahwa titik itu bukan tujuan akhirnya, tapi penasaran gimana jadinya kalau sampai di sana!"

Divert. Istilah yang sering aku denger dalam konteks penerbangan.

"Coba aja lu pikirin sendiri! Lu ibaratnya udah bikin planning cape-cape nih. Se-detail mungkin. Tapi pas lu jalanin semua itu, dunia malah ngasi kejutan. Kejutannya bukannya bikin seneng, malah bikin muak. I mean, ternyata ga semua berjalan sesuai rencana itu. Mungkin gw yang sial aja karena terlahir sebagai WNI, di sini 1+1 udah ga sama dengan dua. Terlalu banyak ketololan di generasi ini yang ga bisa gw terima."

Kadang santapan comforting yang harusnya nyaman di lidah, bisa terasa hambar saat mendengar orang mengigau seperti ini. 

Aku teringat harga cake yang lumayan mahal, dan memutuskan untuk fokus menikmatinya. Sesaat kuabaikan Lera yang kali ini sedang menjelaskan soal kecenderungannya malas mandi akhir-akhir ini.

Makin siang, kedai roti ini makin ramai. Waiter dengan sengaja mengeraskan volume musik, jadi suara Lera bisa kutangkap dengan samar saja.

Kalau tidak salah, dia sempat bilang begini, "Cape-cape gw ngikutin rekomendasi influencer yang bilang kita harus minum vitamin C dan E buat ngilangin jerawat, tapi kenyataannya ngga sesuai tuh. Malah pas gw rajin ngemil tempe mendoan sawit, jerawat gw kempes! Emang marketing tuh industri para tukang kibul. Sial banget gw, pemimpin negara ini tukang tipu, warganya juga sama."


     

You Might Also Like

0 komentar

CONNECT ON TWITTER

Blog Archive

connect on Pinterest