Hmm.. Gw merasa ngga punya kapasitas untuk menjawab
pertanyaan ini.
Siapakah gw sehingga gw bisa menentukan mana kesalahan
terbesar dalam hidup gw?
Gimana kalo, menurut Tuhan ‘kesalahan’ itu merupakan
bagian dari skenario indah-Nya dalam hidup gw?!
Siapakah gw sehingga gw berhak menilai bahwa momen A adalah
kekeliruan—sesuatu yang seharusnya ditiadakan dalam timeline kehidupan?! Lalu atas dasar apa gw bisa menentukan bahwa momen
B adalah keindahan—sesuatu yang harusnya terjadi berulang kali dan bahkan
terus-menerus?!
Bagi Tuhan, Sang Desainer Agung, ‘kesalahan’ belum tentu
kesalahan. Kesalahan itu mungkin hanya soal perspektif kita.
Seperti pepatah yang pernah gw baca di Twitter: Tuhan
bisa memungut serpihan-serpihan kaca yang sudah diinjak-injak di tanah,
kemudian membentuknya menjadi sebuah vas bunga nan indah.
Atau seperti ungkapan dari temen gw: goresan yang bagi
kita seperti ‘asal-asalan’ atau ‘ngga sengaja kecoret’ sebetulnya merupakan
bagian dari mahakarya lukisan yang sedang Dia ciptakan.
Atau seperti celetukan temen gw yang lain: hidup itu
bagaikan piano, dimana tuts putih adalah prestasi dan kebanggaan, sementara tuts
hitam adalah kekurangan dan kekeliruan. Tapi kalau jari-jari Tuhan sudah bermain,
tuts putih dan tuts hitam terangkai menjadi sebuah harmoni musik yang merdu.
Jadi, apa kesalahan terbesar dalam hidup gw?
Gw ngga tau. Mungkin gw baru bisa dapet jawabannya setelah
gw ketemu Dia di sorga nanti. Dan setelah itu baru gw tulis jawabannya di blog
ini, kalo masih sempet.



