Aku menulis untaian kalimat ini di dalam gerbong 1 kereta api jurusan Senen - Semarang. Bukan di tempat sunyi dan gelap, meskipun hari ini sudah malam tepatnya menjelang pukul 00.00. Yang aku tak mengerti, mengapa penyelenggara layanan transportasi ini tetap menyalakan AC dan lampu terang benderang meski ini sudah jamnya tidur? Mengapa mereka tak melakukan aksi penghematan energi--dan kemudian membiarkan para penumpang tertidur dalam temaram? Ah, entahlah. Mungkin mereka punya skema untuk membuat perut kami selalu kelaparan dengan cara membiarkan hawa dingin menyelinap ke balik pakaian kami, dan tak lama kemudian petugas pramuria akan berkeliling membawa daftar menu yang lantas membuat kami terbeban untuk memesan beberapa minuman hangat. Dan mereka pun mendapat profit ! Oh, I knew it already.
Sudahlah,
Saat tubuhku bergoyang-goyang di bangku empuk ini bak sedang melewati arung jeram, aku kembali mengingat kamu. Ya , kamu. Seseorang yang pernah berarti dalam hidupku--dan terlepas dari keadaan sulit yang akhirnya memisahkan kita--aku tetap bersyukur atas apa yang telah Tuhan kerjakan bagiku melalui kamu.
Aku selalu merasa kesendirian adalah momen dimana otak dan jiwaku di-charge kembali. Bertemu, berbincang, dan tertawa dengan orang lain adalah hal yang menyenangkan--sekaligus menguras tenagaku. Jadi, ketika tiba saatnya dimana aku hanya berdua dengan pikiranku, aku kembali memikirkan hal-hal penting yang biasanya tak terpikirkan saat sedang bersosialisasi.
Selain membayangkan keberadaanmu, yang nun jauh di sana--bukan hanya jauh secara jarak, tetapi juga secara hati (ceilaah), aku juga membayangkan jika kejadian-kejadian mengenaskan di berita (yakni seputar kereta anjlok dari relnya, atau apalah) terjadi dalam hidupku. Ahh, aku tidak berharap tentunya. Lagipula jika Tuhan belum selesai dengan hidupku, Dia tidak akan memanggilku sekarang. Masih banyak tugas yang kurasa perlu kukerjakan.
Ah, semakin dingin saja angin elektronik ini menghembusi gerbong kereta api kelas bisnis yang aku tumpangi. Sialnya lagi aku mulai mencium bau tembakau, padahal ini ruang ber-AC! Halooo, orang-orang tak berintelek, bisakah kalian segera hengkang dari sini dan menuju area bertanda SMOKING ROOM jika kalian ingin melampiaskan hasrat untuk mengasapi diri? Jangan asapi paru-paru kami, terutama aku yang masih muda, masih punya banyak visi, dan belum menemukan jawaban atas banyak pertanyaan di kepalaku.
Aku kembali mengingat kamu. Daripada memikirkan perilaku menyenangkan yang tidak kaulakukan kepadaku atau sikap-sikap menyebalkan yang kautampilkan di hadapanku dulu, lebih baik aku memproyeksikan apa yang ingin aku ubah dari diriku dan apa yang akan kucapai di masa yang akan datang, Aku percaya dengan sepenuh jiwa, logika, dan fisika bahwa akan tiba saatnya dimana aku berdiri di altar dan berkata I DO tanpa disertai keraguan dan penyesalan sedikitpun karena hatiku telah mantap memilih sang pendamping hingga ajal memisahkan.
Ya ampun, apa pula nih yang aku tulis? Ababil ya? Harap maklumi saja, deh!
Ya ampun, apa pula nih yang aku tulis? Ababil ya? Harap maklumi saja, deh!
Mungkin Allah memakai kesendirian dan kesedihan kita supaya kita mencari Dia.Mungkin Dia sudah menge-set kita dengan 'default value' dimana kita akan makin dekat denganNya justru saat dunia (orang-orang sekitar) menjauhi kita.
Masalahnya sekarang,
Apakah kita masih mau "bersusah susah" mencari Tuhan ketika kita sedang berada di titik jenuh kehidupan ini?
Aku sering berpikir bahwa banyak alasan bagiku untuk membenci hidupku sendiri. Aku benci dengan keputusan-keputusan salah yang pernah aku buat. Aku bahkan membenci caraku berpikir: kenapa cara otakku bekerja seperti ini; bukan seperti itu.. Dan kadang aku berharap memiliki hidup senormal yang dimiliki orang lain. Aku benci dengan semua teori yang tidak sinkron dengan realita.
Aku benci....
Apakah ada orang lain yang memikirkan hal yang sama?
Seandainya kamu tahu..
Detik di mana kamu bilang ingin meninggalkan aku,
Duniaku berhenti berjalan.
Aku berharap semua jam berhenti berdetak.
Karena aku tidak tahu bagaimana melanjutkan hidup tanpa kamu di sisiku.
Seandainya kamu tahu..
Detik dimana kita berpisah adalah momen dimana semua tatanan otakku di-reset. Diformat ulang.
Aku harus melupakan dan meninggalkan apa yang masih kukenang.
Seandainya kamu tahu..
Detik dimana aku melangkah menjauh darimu adalah saat dimana air mata kubiarkan menggantung.
Aku harus yakinkan alter egoku agar tidak menjadi cengeng. I am not a little girl anymore. I have to be tough without you.
Detik di mana kamu bilang ingin meninggalkan aku,
Duniaku berhenti berjalan.
Aku berharap semua jam berhenti berdetak.
Karena aku tidak tahu bagaimana melanjutkan hidup tanpa kamu di sisiku.
Seandainya kamu tahu..
Detik dimana kita berpisah adalah momen dimana semua tatanan otakku di-reset. Diformat ulang.
Aku harus melupakan dan meninggalkan apa yang masih kukenang.
Seandainya kamu tahu..
Detik dimana aku melangkah menjauh darimu adalah saat dimana air mata kubiarkan menggantung.
Aku harus yakinkan alter egoku agar tidak menjadi cengeng. I am not a little girl anymore. I have to be tough without you.
Manakala hati menggeliat, mengusik renungan
Mengulang kenangan saat cinta menemui kita
Suara sang malam dan siang seakan berlagu
Dapat aku dengar rindumu memanggil namaku
Saat aku tak lagi di sisimu
Kutunggu kau di keabadian
Aku tak pernah pergi, selalu ada di hatimu
Kau tak pernah jauh, selalu ada di dalam hatiku
Sukmaku berteriak, menegaskan ku cinta padamu
Terima kasih pada maha cinta menyatukan kita
Saat aku tak lagi di sisimu
Ku tunggu kau di keabadian
Cinta kita melukiskan sejarah
Menggelarkan cerita penuh suka cita
Sehingga siapa pun insan Tuhan
Pasti tahu cinta kita sejati

