Pukul 19.45.
Aku baru saja memasak menu yang aku saksikan di YouTube siang tadi. Sebuah menu sederhana tapi rasanya luar biasa (ini sih menurut yang masak …. hehe).
Menu tersebut berjudul Capcay Sosis !!
Biasa aja, ya? Emang…
Tapi bagi si koki, yang masih amatiran ini, capcay sosis tersebut merupakan sebuah prestasi yang patut mendapat pujian, setidaknya dari dirinya sendiri!! #NarsisAkut
Bahannya murah meriah (tapi jadi agak mahal karena dibeli di H*G*R sepulang kantor barusan. Ugh!), ini dia:
sosis, brokoli, wortel, jamur kancing, caisim, dan saos tiram.
Nah, setelah sekitar 40 menit bergelut di dapur yang sempit di kosan (hei, ternyata masak itu lumayan lama, ya, say!), akhirnya si koki newbie ini berhasil menyelesaikannya dengan (lumayan) sukses! Alhasil, si koki merasakan sebuah kepuasan yang tidak dapat terungkapkan dengan kata-kata! (lebay.co.id)
Tunggu, tunggu, tadi ada pernyataan bahwa masakannya “lumayan” sukses, kan?
Nah, kenapa ada “lumayan” segala? Itu karena masakan ini memiliki sejumlah kekurangan… Yakni, wortel dan brokolinya kurang empuk (mungkin karena kurang lama direbusnya). Terus, ukuran potongan brokoli serta caisim-nya terlalu besar, sehingga si konsumen harus membuka mulutnya lebar-lebar (dengan diameter sekitar 5 cm, maybe?) untuk memasukkan masakan lezat tersebut. Waw, dahsyat gak sih?
Oya, si koki lupa memasukkan foto hasil masakannya! Wah, sorry ya, bukannya sombong atau angkuh, cuman masalahnya gak ada kamera yang cukup memadai untuk dipakai jepret-jepretan! So, doakanlah agar si koki semakin berjaya di dunia kuliner sehingga memiliki cukup uang untuk membeli kamera. LHO ??
Oya, bro and sis,
kalau ente-ente mau tahu video YouTube cara memasak capcay sosis yang dipraktekkan oleh saya, ini nih… (saya gak terlalu persis ngikutin resepnya, tetapi saya melakukan modifikasi).
Sampai jumpa di praktikum kuliner berikutnya!
Hahahaha…
jika kamu melihat ada ujian terberat di depan sana,
jangan pernah minta itu di-'skip'.
Melainkan, hadapilah.
Lakukan perjuangan terbaik sampai kamu lulus.
Mengapa?
Karena ujian itu akan membentuk karaktermu dan membuktikan sudah sejauh mana tingkat kelas kehidupan yang kamu duduki.
Jangan pernah menyerah.
Bukankah dulu, dulu, dan dulu kamu sudah mengalami yang lebih berat dari ini--dan nyatanya kamu berhasil lulus darinya?
Jadi, apa bedanya dengan sekarang?
Oya, satu lagi.
Bukankah Tuhan yang sama tetap ada, kini dan nanti?
Bukankah janji-Nya tetap berlaku dulu, sekarang, dan sampai nanti?
Ada masalah apa lagi? Tidak ada, kan?
Tidak ada yang terlalu berat, Yen.
Kamu harus lulus.
No matter what.
Seperti itulah rasanya saat aku harus menghadapi semua ini. Menyadari bahwa dahulu aku sama sekali tidak menaruh minat akan perkara ini, aku jadi gak menyesal juga. Sekarang 'kan aku jadi tidak ahli dalam hal ini...
Yah, anggap aja ini suatu permulaan baru, yang orang lain sudah pernah alami dan kini hampir di akhir perjalanan, sementara aku baru memulainya dari titik 0.
Mungkin ini sebabnya mengapa aku merasa 'setengah' hidup selama beberapa bulan terakhir ini, ya!
Memandangi potret-potret digital yang melukiskan kebahagiaan sekali seumur hidup itu, aku jadi berpikir, akan seperti apakah saat hari yang sama tiba dalam kehidupanku? Bagiku saat ini, hari idaman semua orang tersebut lebih terasa seperti musibah ketimbang mimpi indah.
Hufft. Masih banyak hal yang tidak kumengerti. Tapi aku yakin, akan tiba saatnya nanti aku akan mengerti. Dengan banyaknya ‘input’ dan kondisi lingkungan yang kukecapi sekarang, aku semakin tidak percaya bahwa kebahagiaan itu akan berlaku juga buatku. Ah, mungkinkah? Tetapi, tidak ada yang mustahil bagi Tuhan, bukan?
Aku tak memungkiri bahwa mimpi-mimpiku semakin sulit untuk terwujud. Namun, entah kenapa ya (mungkin inilah tabiat asli manusia), semakin banyak faktor yang akan menghancurkan mimpiku, semakin besar gairahku untuk menantangnya dan membuktikan bahwa mimpi-mimpi itu akhirnya akan menjadi nyata.
Hahaha. Aku ikuti jalan-Mu saja deh, Tuhan. Aku pusing kalau harus memikirkan hal ini secara detail. Sudah terlalu banyak tipuan dan kamuflase yang membodohi aku.
Oke, apapun yang ada di depan mata saat ini, aku hadapi dengan tegar dan penyerahan total. Soal hasil, Engkau-lah yang bertanggung jawab, ya Bapa….
