| Cuplikan lirik lagu Brick by Boring Brick yang dinyanyikan oleh Paramore. Actually this song's intention is to control the listener's mind. (Cerita di balik lagunya) |
Aku bosan dengan hidup ini.
Aku membenci perlakuan orang-orang terhadapku yang menurutku kurang ajar.
Aku mengganggap sampah semua prinsip yang dianut orang lain, kecuali prinsipku sendiri. Tapi aku malu karena apa yang kupikirkan tersebut hanyalah kesombongan.
Kesombongan? Siapa bilang?
Agama? Kitab sucimu?
Stop talking about somewhat religion.
Dengan amat bangga dan bersukacita, aku mendeklarasikan tahun 2011 (yang akan berakhir 12 hari lagi) sebagai tahun perdamaian.
Apa sebab?
Karena tahun 2011 ini aku telah berdamai setidaknya dengan 2 oknum.
Yang pertama, berdamai dengan seseorang yang sempat kesal denganku dan menciptakan sebuah perang dingin di antara kami. Tindakan pra-perdamaian dilakukan bulan Desember 2010, saat aku menghampiri dia dan mengulurkan tanganku padanya, memohon maaf atas semua kesalahan yang kuperbuat padanya. Saat itu, dia tidak bereaksi sesuai dengan harapanku. Aku sedih sih, agak kecewa, namun aku berusaha untuk tidak "menghukum diri sendiri". Aku tetap berjalan dengan langkah pelan tapi pasti, ketika dia tidak menyambut uluran jabatan tanganku. Dia melengos saja, menuju tempat parkir. Satu-satunya kalimat yang terlontar dari mulutnya adalah, "Untuk apa?"
Aku ingat, sesudah dia pergi dari hadapanku, aku pergi ke toilet. Bukan, bukan menangis kog. Tapi buang air kecil. Aku sengaja menahannya (walaupun sudah di ujung tanduk. Hahaha), karena takutnya dia "mencuri-curi" kesempatan untuk pergi sebelum aku sempat minta maaf padanya. Dia tipe orang yang tidak berkeliaran di kampus, jadi aku khawatir kalau-kalau aku tidak dapat bertemu lagi dengannya. Kapan lagi kami berdamai kalau bukan sekarang, pikirku waktu itu. Lagipula aku sudah mendoakannya selama beberapa hari sebelumnya. Aku harus yakin bahwa ini saat yang tepat untuk membereskan semuanya sebelum ada hal-hal tidak terduga yang akan memisahkan kami selamanya ...
Ahh! Dia tidak menanggapi proposal perdamaianku! Sepertinya dia masih marah dan belum mau membereskan semuanya. Jangankan membicarakannya denganku, melihat mataku saja dia enggan. Hmm.
Tapi tetap saja aku tidak berhak memaksakan kehendakku terjadi atas dirinya. Aku selalu berusaha ingin mengubah dia. Aku selalu berharap tindakanku, perkataanku, dan perlakuanku terhadapnya dapat mengubah karakternya menjadi lebih baik dari yang sekarang. Salahkah semua itu? Tidak. Tindakan itu tidak salah, namun motivasinya yang salah. Aku ingin mengubah dirinya demi egoku sendiri. Aku ingin menjadikan dirinya seperti dengan ketentuan yang kubuat sendiri. Padahal aku 'kan bukan siapa-siapanya dia. Orangtuanya saja belum tentu dapat mengubah dia. Hanya Tuhan Yesus yang dapat dan berhak.
Jadi, sejak kejadian di hari itu, aku tetap tidak menyesali permintaan maaf tersebut. Meskipun tanggapan dia kurang menyenangkan, tapi hatiku amat lega karena telah menyampaikan sebagian kecil ganjalan di hatiku. Terserah dia jika dia tidak mau memaafkanku, yang penting dia sudah tahu kerinduanku untuk berdamai dengannya.
Sepuluh bulan kemudian.
Sejak kejadian di bulan Desember 2010 itu, aku hanya menghabiskan waktu sekitar seminggu untuk mengingat-ingatnya. Setelah 7 hari, aku sudah lupa. Banyak hal lain yang menyita pikiran.
Namun, sosok itu tiba-tiba muncul di rumah. Tak ada sisa noda kemarahan atau acuhan buang muka yang selama ini dia lakukan padaku. Aku pun menerima kedatangannya dengan sorak-sorai di dalam hati, namun di wajah aku cukup menampilkan senyum simpul dan mata berbinar. Ah, sebenarnya aku tak ingat bagaimana reaksiku yang terkesan dengan kehadirannya malam itu. Pokoknya, hatiku sangat bahagia. Dia datang sebagai tanda selesainya amarah. Dia menerima permintaan maafku. Akhirnya!
Wow, aku sangat senang! Luar biasa! Tak bisa berhenti tersenyum rasanya, meskipun beberapa menit kemudian dia pulang dari rumahku. Aku .. sangat bersyukur. Terimakasih Tuhan Yesus. Kau menjawab doaku. Kau selalu punya rancangan terindah sesuai dengan waktu-Mu.
----
Apa sebab?
Karena tahun 2011 ini aku telah berdamai setidaknya dengan 2 oknum.
Yang pertama, berdamai dengan seseorang yang sempat kesal denganku dan menciptakan sebuah perang dingin di antara kami. Tindakan pra-perdamaian dilakukan bulan Desember 2010, saat aku menghampiri dia dan mengulurkan tanganku padanya, memohon maaf atas semua kesalahan yang kuperbuat padanya. Saat itu, dia tidak bereaksi sesuai dengan harapanku. Aku sedih sih, agak kecewa, namun aku berusaha untuk tidak "menghukum diri sendiri". Aku tetap berjalan dengan langkah pelan tapi pasti, ketika dia tidak menyambut uluran jabatan tanganku. Dia melengos saja, menuju tempat parkir. Satu-satunya kalimat yang terlontar dari mulutnya adalah, "Untuk apa?"
Aku ingat, sesudah dia pergi dari hadapanku, aku pergi ke toilet. Bukan, bukan menangis kog. Tapi buang air kecil. Aku sengaja menahannya (walaupun sudah di ujung tanduk. Hahaha), karena takutnya dia "mencuri-curi" kesempatan untuk pergi sebelum aku sempat minta maaf padanya. Dia tipe orang yang tidak berkeliaran di kampus, jadi aku khawatir kalau-kalau aku tidak dapat bertemu lagi dengannya. Kapan lagi kami berdamai kalau bukan sekarang, pikirku waktu itu. Lagipula aku sudah mendoakannya selama beberapa hari sebelumnya. Aku harus yakin bahwa ini saat yang tepat untuk membereskan semuanya sebelum ada hal-hal tidak terduga yang akan memisahkan kami selamanya ...
Ahh! Dia tidak menanggapi proposal perdamaianku! Sepertinya dia masih marah dan belum mau membereskan semuanya. Jangankan membicarakannya denganku, melihat mataku saja dia enggan. Hmm.
Tapi tetap saja aku tidak berhak memaksakan kehendakku terjadi atas dirinya. Aku selalu berusaha ingin mengubah dia. Aku selalu berharap tindakanku, perkataanku, dan perlakuanku terhadapnya dapat mengubah karakternya menjadi lebih baik dari yang sekarang. Salahkah semua itu? Tidak. Tindakan itu tidak salah, namun motivasinya yang salah. Aku ingin mengubah dirinya demi egoku sendiri. Aku ingin menjadikan dirinya seperti dengan ketentuan yang kubuat sendiri. Padahal aku 'kan bukan siapa-siapanya dia. Orangtuanya saja belum tentu dapat mengubah dia. Hanya Tuhan Yesus yang dapat dan berhak.
Jadi, sejak kejadian di hari itu, aku tetap tidak menyesali permintaan maaf tersebut. Meskipun tanggapan dia kurang menyenangkan, tapi hatiku amat lega karena telah menyampaikan sebagian kecil ganjalan di hatiku. Terserah dia jika dia tidak mau memaafkanku, yang penting dia sudah tahu kerinduanku untuk berdamai dengannya.
Sepuluh bulan kemudian.
Sejak kejadian di bulan Desember 2010 itu, aku hanya menghabiskan waktu sekitar seminggu untuk mengingat-ingatnya. Setelah 7 hari, aku sudah lupa. Banyak hal lain yang menyita pikiran.
Namun, sosok itu tiba-tiba muncul di rumah. Tak ada sisa noda kemarahan atau acuhan buang muka yang selama ini dia lakukan padaku. Aku pun menerima kedatangannya dengan sorak-sorai di dalam hati, namun di wajah aku cukup menampilkan senyum simpul dan mata berbinar. Ah, sebenarnya aku tak ingat bagaimana reaksiku yang terkesan dengan kehadirannya malam itu. Pokoknya, hatiku sangat bahagia. Dia datang sebagai tanda selesainya amarah. Dia menerima permintaan maafku. Akhirnya!
Wow, aku sangat senang! Luar biasa! Tak bisa berhenti tersenyum rasanya, meskipun beberapa menit kemudian dia pulang dari rumahku. Aku .. sangat bersyukur. Terimakasih Tuhan Yesus. Kau menjawab doaku. Kau selalu punya rancangan terindah sesuai dengan waktu-Mu.
----
Sementara bagi seseorang uang bukanlah masalah sama sekali karena isi dompet senantiasa tebal dan rekening di bank terus menggumpal, di belahan dunia lainnya ada yang bahkan terbiasa berjuang mati-matian demi sekeping uang logam, bertahan tak tidur dan tak makan agar bisa melewati satu hari lagi.
Sementara bagi seseorang berkuliah bukanlah pekerjaan yang menguras keringat karena otak mereka setajam golok, ada orang lain di luar sana yang harus berurai air mata setiap kali ada ujian, dan harus melatih raga demi begadang sampai subuh.
Sementara bagi sebagian orang hidup itu amat sulit dan penuh kerja keras, bagi segelintir orang arti kemudahan hidup adalah sesuatu yang absurd, karena bagi mereka semua fasilitas tersedia tanpa ada perbedaan mana yang lebih sulit atau lebih mudah. Semua tinggal meminta, dan anehnya, selalu mereka dapatkan. Karenanya orang-orang seperti demikian mengganggap aneh pada frasa "hidup itu keras".
Well, mana yang lebih baik?
Hidup ini adil bukan?
Kalau dicari-cari, selalu akan ada alasan untuk mengeluh, membanding-bandingkan, dan menuntut. Kenapa tidak mensyukuri apa yang di depan mata? Bersyukur bahwa setidaknya kamu tidak mengalami hal-hal buruk yang dialami orang lain di luar sana. Let me tell you, kesulitan hidup itu real. Nyata senyata-nyatanya.
Banyak orang harus menjual apa yang tak seharusnya mereka jual agar bisa menelan sesuap nasi--dan itu sama sekali bukan keinginan mereka! Bukankah lebih baik melakukan pekerjaan lain, yang lebih normal dan bermoral? Tanyakanlah pada mereka, apa yang mereka nikmati dari pekerjaan itu. Nothing. Nol besar. Hati mereka memberontak. Mereka hanya kaum-kaum termarjinalkan yang terjebak dalam krisis moralitas, dan tak tahu bahwa sebetulnya ada pilihan lain yang bisa diambil. Namun jangan salahkan mereka karena mereka seperti larut dan hanyut dalam status quo. Mereka hanya sekelompok orang yang kurang pedoman hidup, dan itu terjadi turun-temurun. Buat apa menyalahkan mereka? Salahkanlah orang yang sudah tahu kebenaran namun tak memberitahukannya kepada mereka.
Biar gw nyante dulu sekarang.
Ini malem sabtu, artinya besok hari Sabtu.
Yang bikin asik, besok pagi ada hiking SK-EL ke Natural Hills !!!
Yihaaa..
Asalnya pemilihan hari Sabtu, tanggl 1 Oktober sebagai hari hiking se-SKEL ini cukup menuai kontroversi. Bagaimana tidak? Kan ada CRC P2 Leadership & Entrepreneurship di kampus. Penganutnya dominan angkatan 2008. Jadwalnya ngagokin. Jam 10-12. Beberapa pertemuan ke belakang malah ditambah juga dengan jam 8-10. Jadinya kalo kita mau CRC dulu baru pergi hiking, dah ga lucu deh.. Hiking kesiangan ini mah :p.
But, u know what? Seminggu sebelum tanggal 1 Oktober, Bu Eva yang hari itu kok kayanya cuantiiik banget (emang tiap hr cantik kok bu :D) dengan tenang dan bersahaja mengumumkan bahwa minggu depan tidak ada CRC. Libur!! Yeah! Suara pelan Bu Eva tenggelam dalam sorak sorai malu-malu anak-anak. Intinya sih mereka pada seneng, hanya mungkin gak berani mengekspresikannya dengan terus terang akibat keberadaan Pak Ketua Yayasan di ruangan itu. Hi hi hi hi !
By the way anyway busway on the way, pengumuman itu tetep gak mengubah keadaan bagi gw (ceilee, bahasanya). Soalnya tetep aja gw ga akan bisa ikut berhubung bentrok dengn jadwal mengajar di SMAK 3 (pukul 06.30 - 09.00). Sementara rencana ngumpul di kampus paling telat jam 7. Mana sempat pula gw nyusul ke TKP, gan?? Tak tau jalan pula lah awak ..
Sampe H-1, banyak temen2 yang udah bayar dan daftar transportasi. Segalal rupa inpo dan tetek bengek di-broadcast-kan melalui grup SK-EL ITHB. Walhasil semua menyambut dengan mata berbinar dan berkaca-kaca.
Ya sudah sih. Gw cuma ikut melepas kepergian mereka. Hiks hiks. Pengennya mah ikut, tapi ga mungkin ijin kerja hanya demi hiking! Ga ada alesan laen apah????
Dan Jumat malam gw cuma sms Miss Mathilda, my partner. I asked her about tomorrow's topic. Then she replied, "Yen, besok gak ada kelas yah. Libur dulu. Soalnya anak-anak mau midtest. Tq ya.."
What?!?! Dengan segenap kekuatan gw menyambar ponsel nokia antik kesayanganku, menghubungi ibu ketua HIMA dan menanyakan apakah ada probabilitas untuk saya ikut hiking?
Masalahnya, takutnya penambahan peserta mendadak akan membuat panitianya kudu nombokin dulu dan ada perubahan data-data seperti transportasi dan jumlah makanan. Hmm.. kerasa aja. Soalnya pernah ngalamin jadi panitia acara-acara gitu. Perubahan dadakan bisa bikin naik urat dan kepala puyeng. Selalu ribet urusan di belakang layar mah. Kalo gak mau berkorban, acara ga akan jalan. Kepuasan saat semuanya berjalan dengan lancar adalah (salah satu) hadiah yang layak kita dapatkan.
Sang bu ketua dengan berapi-api (terlihat dari kata-kata yang tersirat dari smsnya *soktau*) menerima keinginanku untuk bergabung di hiking. Aku pun kembali membalasnya dengan semangat menggebu-gebu. *Halaahh...
Siap dah!
Pokoknya pagi bangun, mandi, makan, trus capcus!!
Sementara itu si wo dengan linglung style-nya nanya2 seputar games. Kebetulan dan puji Tuhan gw banyak mendapat masukan ide games. Jadi gw kasi saran ke dia. Niatnya sih ya bantu2 aja. Soal properties, bukan gw yang nanganin.. sorry aja yah!
Karena gw sering maen games di CG, camp, dan acara-acara gereja lainnya. Jadi terlintas deh dengan sekejap. Asiknya jadi game master tuh, kita bisa ngatur-ngatur orang untuk melakukan instruksi apapun yang kita suruh dan dengan bahagianya kita bisa tertawa terbahak-bahak saat melihat kelakuan temen-temen kita dalam bermain. Peserta yang maen sih gak akan nyadar ekspresi mereka, komentar2 yang dengan spontan terlontar dari mulut mereka, etc. Lantaran umumnya mereka konsen maen game. So, kita sebagai yang mengawasi mereka, ya jadi penonton. Ngakak lah. Terhibur kalo ngeliat orang maen games yang kita bawakan.
Finally, besok gw harus bangun pagi. Yawdah besok gw teruskan lagi yah! Pengen share cerita tentang kejadian sepanjang hari Jumat ini. Ada banyak yang seru. Oya, sama peristiwa hari Rabu pas gw ke SMAK 3. Plus oleh-oleh yang gw dapet Sabtu kemarin saat gw ke Gramedia Merdeka dan .... (psst, tunggu kelanjutannya, gan!) hehehe. Wait n see, dah!
Actually, tiap hari juga gak pernah ngebosenin. Ada aja yang baru, never the same! Ya iyalah, secara jalan bareng bersama Tuhan :) Ga akan pernah monoton!
Ane pamit tidur dulu dah. Oya, lupa mau masukin handuk dan baju ganti untuk besok. Ah, besok pagi aja deh. Sekarang mah ke toilet, gosok gigi, trus bobo!
Haiyaaa!!
Oleh-oleh tentang hikingnya tentu tak akan lupa saya bungkus!:)
Ini malem sabtu, artinya besok hari Sabtu.
Yang bikin asik, besok pagi ada hiking SK-EL ke Natural Hills !!!
Yihaaa..
Asalnya pemilihan hari Sabtu, tanggl 1 Oktober sebagai hari hiking se-SKEL ini cukup menuai kontroversi. Bagaimana tidak? Kan ada CRC P2 Leadership & Entrepreneurship di kampus. Penganutnya dominan angkatan 2008. Jadwalnya ngagokin. Jam 10-12. Beberapa pertemuan ke belakang malah ditambah juga dengan jam 8-10. Jadinya kalo kita mau CRC dulu baru pergi hiking, dah ga lucu deh.. Hiking kesiangan ini mah :p.
But, u know what? Seminggu sebelum tanggal 1 Oktober, Bu Eva yang hari itu kok kayanya cuantiiik banget (emang tiap hr cantik kok bu :D) dengan tenang dan bersahaja mengumumkan bahwa minggu depan tidak ada CRC. Libur!! Yeah! Suara pelan Bu Eva tenggelam dalam sorak sorai malu-malu anak-anak. Intinya sih mereka pada seneng, hanya mungkin gak berani mengekspresikannya dengan terus terang akibat keberadaan Pak Ketua Yayasan di ruangan itu. Hi hi hi hi !
By the way anyway busway on the way, pengumuman itu tetep gak mengubah keadaan bagi gw (ceilee, bahasanya). Soalnya tetep aja gw ga akan bisa ikut berhubung bentrok dengn jadwal mengajar di SMAK 3 (pukul 06.30 - 09.00). Sementara rencana ngumpul di kampus paling telat jam 7. Mana sempat pula gw nyusul ke TKP, gan?? Tak tau jalan pula lah awak ..
Sampe H-1, banyak temen2 yang udah bayar dan daftar transportasi. Segalal rupa inpo dan tetek bengek di-broadcast-kan melalui grup SK-EL ITHB. Walhasil semua menyambut dengan mata berbinar dan berkaca-kaca.
Ya sudah sih. Gw cuma ikut melepas kepergian mereka. Hiks hiks. Pengennya mah ikut, tapi ga mungkin ijin kerja hanya demi hiking! Ga ada alesan laen apah????
Dan Jumat malam gw cuma sms Miss Mathilda, my partner. I asked her about tomorrow's topic. Then she replied, "Yen, besok gak ada kelas yah. Libur dulu. Soalnya anak-anak mau midtest. Tq ya.."
What?!?! Dengan segenap kekuatan gw menyambar ponsel nokia antik kesayanganku, menghubungi ibu ketua HIMA dan menanyakan apakah ada probabilitas untuk saya ikut hiking?
Masalahnya, takutnya penambahan peserta mendadak akan membuat panitianya kudu nombokin dulu dan ada perubahan data-data seperti transportasi dan jumlah makanan. Hmm.. kerasa aja. Soalnya pernah ngalamin jadi panitia acara-acara gitu. Perubahan dadakan bisa bikin naik urat dan kepala puyeng. Selalu ribet urusan di belakang layar mah. Kalo gak mau berkorban, acara ga akan jalan. Kepuasan saat semuanya berjalan dengan lancar adalah (salah satu) hadiah yang layak kita dapatkan.
Sang bu ketua dengan berapi-api (terlihat dari kata-kata yang tersirat dari smsnya *soktau*) menerima keinginanku untuk bergabung di hiking. Aku pun kembali membalasnya dengan semangat menggebu-gebu. *Halaahh...
Siap dah!
Pokoknya pagi bangun, mandi, makan, trus capcus!!
Sementara itu si wo dengan linglung style-nya nanya2 seputar games. Kebetulan dan puji Tuhan gw banyak mendapat masukan ide games. Jadi gw kasi saran ke dia. Niatnya sih ya bantu2 aja. Soal properties, bukan gw yang nanganin.. sorry aja yah!
Karena gw sering maen games di CG, camp, dan acara-acara gereja lainnya. Jadi terlintas deh dengan sekejap. Asiknya jadi game master tuh, kita bisa ngatur-ngatur orang untuk melakukan instruksi apapun yang kita suruh dan dengan bahagianya kita bisa tertawa terbahak-bahak saat melihat kelakuan temen-temen kita dalam bermain. Peserta yang maen sih gak akan nyadar ekspresi mereka, komentar2 yang dengan spontan terlontar dari mulut mereka, etc. Lantaran umumnya mereka konsen maen game. So, kita sebagai yang mengawasi mereka, ya jadi penonton. Ngakak lah. Terhibur kalo ngeliat orang maen games yang kita bawakan.
Finally, besok gw harus bangun pagi. Yawdah besok gw teruskan lagi yah! Pengen share cerita tentang kejadian sepanjang hari Jumat ini. Ada banyak yang seru. Oya, sama peristiwa hari Rabu pas gw ke SMAK 3. Plus oleh-oleh yang gw dapet Sabtu kemarin saat gw ke Gramedia Merdeka dan .... (psst, tunggu kelanjutannya, gan!) hehehe. Wait n see, dah!
Actually, tiap hari juga gak pernah ngebosenin. Ada aja yang baru, never the same! Ya iyalah, secara jalan bareng bersama Tuhan :) Ga akan pernah monoton!
Ane pamit tidur dulu dah. Oya, lupa mau masukin handuk dan baju ganti untuk besok. Ah, besok pagi aja deh. Sekarang mah ke toilet, gosok gigi, trus bobo!
Haiyaaa!!
Oleh-oleh tentang hikingnya tentu tak akan lupa saya bungkus!:)

