DAHLAH MALES. Baru aja marah-marah ke sebuah aplikasi food delivery. Gausah sebut namanya, males. Pokonya depannya go belakangnya jek. Gw pesen mie ayam langganan gw yg jaraknya sekitar 1.5 km untuk makan malam. Langsung ketemu driver yang accept order tapiiii... Dia tidak bisa dihubungi. Menit-menit pertama gw masih menunggu, mungkin sinyal hapenya dia lagi ngilang sejenak. 10 menit berikutnya tetep tidak ada balasan, chat dari...
Aku adalah pembeli yang payah. Aku membeli karena barang-barang di marketplace tampak menarik. Nyatanya tidak ada di antara semua itu yang kubutuhkan. Aku hanya bosan, dan berbelanja jadi pemuas jalur instan. Aku bersemangat dengan tibanya paket dari kurir. Secepat aku excited, secepat itu pula aku menjadi bosan lagi. Barang-barangnya bagus memang, bahkan ada yang lebih baik dari foto katalognya. Tapi... Seperti yang sudah kusebut:...
Manusia adalah bahan penelitian paling menarik bagiku. Terbuat dari apa mereka, bagaimana jalan pikirannya, mengapa ada kehendak begini dan begitu... semuanya adalah sumber penasaranku. Dan ketika membaca novel karangan Pearl S. Buck ini aku menyadari bahwa karya fiksi pun bisa menjadi objek pembelajaran yang seru terkait tingkah polah manusia.Sebenarnya aku tidak terlalu suka novel. Aku sangat pemilih, termasuk dengan apa yang kubaca. Buku...
Aku berharap agar semua semakin baik. Seperti roda yang kadang di atas & kadang di bawah, yang terpenting adalah rodanya bergerak maju. Bukan mundur, bukan tikusruk.Kenapa harus berharap? Bukankah dengan bertambahnya usia sudah pasti makin dewasa? Tidak. Sama sekali tidak ada jaminan.Aku bisa berusia 31 tapi mengulangi kebodohan yang kulakukan saatku 24. Insecurity dari usia 15 bisa jadi masih bersemayam. Kenaifan di usia...
Mungkin menulis adalah hal yang akan selamanya kulakukan di akhir sisa hidupku. Well, mengetik lebih tepat daripada menulis. Memang ayunan pensil menghasilkan mekanisme transfer yang lebih baik dari sel otak ke jari. Tapi, aku harus kerja dua kali. Menulis dan mengetiknya kembali. Aku sudah setua ini, dan waktuku tidak banyak. Jadi, efisiensi durasi harus jadi yang utama. Ah, alasan. Bilang saja malas.Sepertinya sangat...
Jarang sekali aku menjadi emosional (baca: mewek) saat membaca buku. Lebih tepatnya, sudah lama sekali itu tak terjadi. Tapi baru membaca buku ini 30an halaman, aku sudah menangis tak karuan. Bukan menangis kecewa karena bukunya jelek, bukan menangis sedih karena isinya tidak kumengerti. Justru sebaliknya: isinya sangat bagus dan mengandung kebenaran, tapi aku sedih karena belum sanggup mempraktekkannya. Buku yang merupakan pemberian dari seorang...
Pernah mikir ngga kenapa anak kecil suka maen CI-LUK-BA.Itu loh, atraksi bodoh di mana kita sebagai pelakon membuka-tutup wajah sambil ngomong cilukba berulang kali, dan kita gembira karena si penonton (= bocah lugu) tertawa excited setiap kali wajah kita nampak? What's so interesting about cilukba? Kenapa setelah dewasa kita ga tertarik lagi? Jadi gw pernah baca di Quora tentang hal ini (dan sayangnya...
PART 1.Hidup ini penuh dengan: notifikasi tak terbaca, screenshot yang tak lagi dilihat, zoom meeting yang tak sungguh-sungguh didengarkan.Berapa jam screen-time kita sehari? Berapa ratus kali jempol nge-scroll, hanya untuk konten yang 10 menit kemudian sudah dilupakan?Riuh. Dunia virtual begitu rusuh. Dan kita jadi bagian di dalamnya. Kita merecoki, juga sebagai yang direcoki. No wonder kita cape! (Kita?!) Gw pribadi sih cape ya. Kebayang...
Then gw biasanya milih, mau publikasi di WA atau IG. Kayaknya ga pernah gw posting satu status yang sama di dua platform. Pasti hanya di salah satunya. Kenapa begitu?
Alasan konyol gw adalah: because there's certain person on that platform that I need to impress. Postingan itu--dengan penuh kesadaran--ingin kutunjukkan pada si X yang kebetulan ada di WA tapi ngga follow me di IG. Atau sebaliknya.
"So, here it is.. I dedicate this post for you. I hope you will be impressed by me."
ANJAY.
Berkali-kali gw mikirin ini setiap sebelum posting. Tidak ada urgensi ataupun kepentingan yang membuatku harus posting. Tapi kenapa diposting? Hampir pasti, jawabannya karena gw mau impress seseorang. Seseorang loh, yang artinya satu. Bukan dua atau delapan. Seseorang yang gw tahu punya akses untuk melihat status gw. Seseorang yang, mungkin sebenarnya bisa saja gw sapa dengan leluasa, tapi gw terlalu malu.
Yaaa sebenernya kalau postingan ini hanya bertujuan menarik perhatian satu orang, kenapa ga langsung aja kan gw send DM ke dia. Tapi ngga gitu cara mainnya. Mungkin orang lain juga punya pola pikir yang sama dengan gw. Hehehe.
GA PENTING YA?
---
Photo by Brent Storm on Unsplash
Bukan, ini bukan jalinan kata mutiara yang berbau relijius untuk menguatkan kamu. Gw lagi ga punya stok perkataan semacam itu, karena gw juga lagi letih lesu. Toss dulu!Gw cuman mencoba breakdown why I feel what I feel. Mungkin bisa membantu pembaca yang punya problem serupa. Ehem. Kenapa gw akhir-akhir ini gampang cape untuk sesuatu yang sebenernya cetek banget buat dilakuin. Bahkan sebelum dieksekusi...